Belasan pendaki dari beberapa negara ikut memberi penghormatan dengan sikap sempurna ketika bendera Merah Putih dikibarkan dan Indonesia Raya dinyanyikan pada peringatan HUT ke-64 Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2009, di puncak barat Gunung Elbrus, Rusia.
“Kami bangga dan terharu karenanya,” kata Budi Hartono Purnomo (51), pendaki anggota senior Mahasiswa Pecinta Alam-Universitas Katolik Parahyangan (Mahitala-Unpar) yang bersama rekannya, Sieling Go, pada Senin pukul 11:00 mencapai puncak barat Elbrus yang bertinggian 5.642 meter di atas permukaan laut (mdpl), kepada ANTARA, Selasa.
Luas daratan puncak teratas se-Eropa dan Rusia itu hanya 30 meter. Beberapa pendaki dari Rusia, Jerman, Swiss, dan Polandia sudah berada di tempat paling atas se-Eropa dan Rusia itu, ketika Budi dan Sieling tiba.
Mereka, kata Budi, menyambut baik ketika diberitahu bahwa hari itu bertepatan dengan HUT ke-64 Kemerdekaan Republik Indonesia, dan spontan memberi kesempatan melaksanakan upacara bendera kebangsaan.
“Ada pula yang membantu merekamkan dengan kamera video kami. Ketika bendera Merah Putih dikibarkan dan Indonesia dinyanyikan, semua pendaki menunjukkan rasa hormat kepada Merah Putih dengan sikap sempurna,” katanya.
Di sepetak atap paling atas di Rusia dan benua Eropa, para pendaki menghabiskan waktu sekitar sejam di tengah terik Matahari yang membakar muka meski suhu udara di bawah nol derajat.
Cuaca ekstrem itu membuat Sieling tidak kuasa menahan darah yang mengucur dari hidungnya ketika menyanyikan Indonesia Raya.
Di tengah cuaca sangat cerah, jajaran Pegunungan Kaukasus, tampak jelas, kata Budi yang bersama Sieling dan Elizabeth Phal (pemandu) pukul 03:00 memulai perjalanan ke puncak dari Pastukhova Rocks (4.600 mdpl).
Udara sangat dingin. Mereka menembus padang salju dengan kemiringan 45 derajat dan suhu udara minus 20 derajat Celsius.
“Pakaian sudah lima lapis. `Gorotex` di lapis keempat dan `down jacket` di lapis terluar tak mampu menahan hawa dingin,”kata Budi yang sehari-hari adalah narasumber dan praktisi industri asuransi.
Pada pukul 07:00, Budi dan Sieling sampai di ujung Saddle Point (5.200 mdpl), punggungan gunung yang menghubungkan puncak barat dan timur Elbrus.
“Dada mulai sesak. Kami istirahat,” kata Budi. Namun, perjalanan selanjutnya makin berat.
Dibutuhkan satu jam untuk menyeberangi punggungan itu. Jalan kemudian menanjak dengan kemiringan sampai 60 derajat ketika menuju puncak dengan lintasan hanya selebar 30 cm yang terbuat dari tapak pendaki sebelumnya.
Jurang menganga lebar di kanan dengan kedalaman ratusan meter. “Kalau terpeleset, habislah sudah,” kata Budi.
Menjelang puncak, di ketinggian 5.500, pengaruh “altitude mountain sickness” mulai terasa. “Nafas lebih berat dan dada sesak. Udara kurang, meski nafas sudah memburu,” katanya.
Selepas dari puncak, perjalanan menurun, tetapi tidak lebih mudah bagi pendaki.
“Perjalanan ke bawah lebih berbahaya. Medan salju sangat curam dengan jurang dalam di sebelah kiri,” kata Budi.
Elbrus dengan bentangan padang salju sejak ketinggian 2.500 mdpl, serta cuaca yang berubah-ubah, menguras tenaga dan stamina setiap pendaki.
Sieling dan Budi mencapai puncak telah tersebut dan mereka menyatakan keberhasilan itu tak lepas dari konsistensi melaksanakan aklimatisasi selama tujuh hari sebelum ke puncak.
Bagi Budi, puncak barat Elbrus sementara ini merupakan pencapaian ketiga dari tujuh puncak tertinggi dunia..
Pada Oktober 2007, Budi bersama rekannya dari Mahitala Unpar yaitu Suhanto, Tjandra Heru, Sani Handoko, dan Hasan Sunardi mencapai puncak Kilimanjaro.
Pada 14 Desember 2008, Budi bersama Sieling sukses menjejakkan kaki di puncak Gunung Aconcagua, Argentina, puncak tertinggi se-benua Amerika.
Tujuh puncak tertinggi di dunia adalah Kilimanjaro (5.896 mdpl) di Afrika, Vinson Massif (4.897) di Antartika, Everest (8.848) di Nepal/China, Cartensz Pyramid (4.884) Papua, Elbrus (5.642) di Rusia, McKinley (6.194) di AS, dan Aconcagua (6.926) di Argentina.Sumber TVone
RSS Feed
Twitter
Posted in 



saya secara pribadi sangat kepada anda semua, karena dapat mengharumkan bangsa dan negara indonesia serta memperkenalkan mahitala unpar di kalangan pencinta alam dalam dan luar negeri. Hidup Mahitalaaaaaaaaaaaaa yeuuuhhhh.